medium-Lonely
Kutulis dalam selembar daun merah
Sebuah nama yang melekat di syahdunya sadira
Tanpa makna nitisara tersirat dalam setiap nuria
Tanpa arti yang tergandung dalam sadajiwa

Entahlah sampai malaikat berlalu
Tak juga tabuhan gendang dilantunkan
Untuk mengiring senja itu pergi
Jauh ke dasar langit yang kelabu
Wahai engkau yang tertulis abadi

0cefda317a660348
Dia memandang kearahnya tanpa sepatah kata
Seorang mahadewa dengan menggenggam naurah berdiri disana
Menunggu siapakan gerangan?

Seorang putri serupa cayadewi datang dengan kereta kudanya
Kemudian mereka menggaguk dan berlalu bersama
Dibawah gegap gumpita purnama mengiring bayangan
Dia tak mampu lagi untuk memandang

49b775280aad7c70Aku hanya bisa terdiam disisi langit yang kala itu beku
Saat ku lihat sepasang mata sayu memandangku dengan terpaku
Kudengar debaran jantung bagai tabuhan lagu yang mendayu
Hari itu dengan ragu, aku mengulang setiap kata didepan mataku
Telah berpulang kepada-Nya dirimu sahabatku
Semoga jalan yang kau tuju melepaskanmu dari permasalahan itu
Selamat jalan…doaku selalu menyertaimu
Secepat itu engkau pergi dari sini, sahabatku

’Teruntuk sahabat yang telah berpulang : Terima kasih untuk semuanya’

happy-birthday-song-cake
Pagi di langit dengan senyum indah sang mentari
Disebuah hari bernama jumat ceria
Ada yang memanggilku meniti kembali hari
Ketika kugantungkan seluruh mimpiku di alam biru
Hampir saja ku lelah bermimpi
Tapi hari ini…
Ku terbangkan kembali asaku ke langit ketujuh
Kupandang sekelilingku tersenyum padaku
Dan semua bernyanyi merdu
Happy birthday to you
Pada satu hari di bulan Juni

Thank you all,…

Iseng-iseng liat di www.stimator.com, bisa kaya mendadak nih…hehehe

$318,820


For my www.napasbidadari.multiply.com

$5,335,042

For my www.napasbidadari.blogspot.com

$73

For my www.hapsariwirastuti.wordpress.com

Aku akan bercerita tentang suatu bintang
Dikala suatu malam yang sepi
Sekumpulan bintang memecah malam yang gelap
Diujung sana tampak olehku sebuah bintang
Warnanya elok melesap menyinari angkasa
Membawaku dalam lamunan kecil disela mimpiku
Andai setiap hari sinarnya tak akan redup
Aku akan menanti setiap malam seperti malam ini
Dan diantara beribu lamunan yang mendekap laju malam
Dalam rangkaian kata yang terpikir dalam benakku
Walau tak sama tapi kaulah cerita itu

waiting
Sebuah malam berkabut dibulan ini, aku merindukanmu
Kota kunang-kunang telah membujukmu singgah
Dan aku hanya sendiri di taman bintang menunggumu
Sembari membawa gambarmu dibawah langit hitam
Walau dingin mengoyak tubuhkupun aku tak lagi bergeming
Dua belas kali lonceng malam telah berdentang
Tak jua akan kutinggalkan bangku itu

Cepatlah kembali sayang
Dan tidurlah dipangkuanku

sepi1Saat ku melintasi lorong sepi di kota itu sekejab kuteringat saat itu, kala lonceng di pohon cemara tengah kota telah berdeting tujuh kali di tempat aku berdiri menunggumu. Suasana yang kurasa masih sama saat kau datang dengan sayap putihmu, kemudian kita akan bersenang-senang di atas angkasa sambil menghidupkan bintang sehingga berkelip bagai lampu hiasan yang menerangi kita. Kau tak lupa pula mensyairkan kata-kata yang selalu kutanyakan maknanya. Kau hidupkan malam di atas awan dengan pemandangan sempurna dan aku hanya duduk manis sambil melihatmu membangkitkan semua pesona itu tanpa tau maksudmu.

Genap malam bulan purnama ini baru ku mengerti arti sebenarnya seluruh keajaiban yang kau kiaskan padaku dulu.

Dan bila saat ini, kaulah yang berada tepat ditempat aku berdiri, tepat di tempat aku merangkai kembali kisah itu, mungkinkah akan terbesit rasa yang sama padamu?

Ku harap tidak

fajarAku sedang berdiri di pasir putih pada sebuah semenanjung utara. Pagi itu, kala fajar belum genap menyingsingkan sinarnya. Tersamar dari sayup mataku sosok dirimu yang kian menghilang. Jauh berbiduk di pelabuhan seberang selatan. Kala ku sampaikan kepada deburan ombak untuk mengirim pesan padamu. Tak pernah sekalipun deru ombak mengabarkan kembali padaku. Mungkin kau telah lupa bagaimana mentari menghangati hati kita yang sedang bercinta, tapi dia tak pernah lupa membisikkan sesuatu padaku, tentangmu.

sepagi itukah kita berjumpa?
atau
sepagi itukah kita berpisah?

entahlah…setiap kali ku buka bola mataku dari alam bawah sadarku selalu kau yang pertama terpikir olehku, sepagi itu…

senja1Pancaran senja menerobos dari balik bilik tua diujung suatu kota. Menaburkan kesenyapan yang menyusupi seluruh aura. Bahkan suara jangkrik yang melantunkan lagunya pun tak sampai membangunkan suasana keramaian disana. Sayup-sayup ku dengar dari jauh kau teriakkan namaku, memanggilku untuk bergegas menujumu. Tapi ku terlalu malas untuk benar-benar memicingkan telingaku agar aku yakin kaulah yang menyebut namaku. Sudah lebih dari sewindu selalu ku dengar suara lirih itu memenuhi angkasa. Tapi tak pernah ku temui wujudmu meskipun dalam bayangan.

Senja yang mana yang akan membawamu kembali?

Ku bertanya kepada ratusan burung yang selalu melintasi samudra, tapi tak sekalipun mereka melihatmu mengayuhkan perahu merapat ke kotaku.

Senja manapun takkan membawamu kembali lagi

Halaman Berikutnya »